Bondowoso – Bencana menerjang infrastruktur transportasi di Kabupaten Bondowoso. Hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur sejak Senin (23/2/2026) siang menyebabkan Jembatan Sentong yang berada di Jalan Mastrip, Desa Sukowiryo, ambruk pada Senin sore sekitar pukul 17.30 WIB. Peristiwa ini langsung memutus akses utama penghubung antara Kabupaten Bondowoso dan Jember
Jembatan peninggalan era kolonial yang diperkirakan telah berusia lebih dari satu abad tersebut ambruk pada bagian sisi baratnya. Kepala Pelaksana BPBD Bondowoso, Kristianto, menyatakan bahwa faktor cuaca ekstrem menjadi pemicu utama. Hujan deras memicu lonjakan debit air yang menggerus struktur penopang jembatan hingga konstruksinya tak mampu bertahan .
Awalnya, kendaraan sempat diberlakukan sistem buka-tutup satu lajur. Namun, kemunculan retakan baru di badan jembatan memaksa petugas untuk menutup total akses jalan provinsi tersebut demi keselamatan pengguna jalan .
Dampak Ekonomi dan Sosial
Ambrolnya jembatan ini tidak hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga memicu gangguan signifikan pada aktivitas sosial dan ekonomi warga. Warga kini terpaksa menempuh jalur alternatif yang berjarak hingga tiga kilometer, padahal panjang jembatan yang putus hanya sekitar 45 meter .
Seorang warga Sukowiryo, Nova Praindasti, mengungkapkan keluhannya saat berdialog dengan Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, yang meninjau lokasi kejadian. "Kalau muter bisa tiga kilometer. Padahal (menyeberang jembatan) ini cuma 45 meter. Aktivitas jelas terganggu," ujarnya, Rabu (25/2/2026) .
Dampak paling terasa melanda para pelajar dan pekerja harian. Orang tua harus berangkat lebih pagi untuk mengantar anak ke sekolah. Pelaku usaha kecil mengaku distribusi barang melambat, dan pengemudi ojek serta angkutan barang menanggung beban operasional yang membengkak. "Sepi pembeli semenjak jembatan ambrol," pekik seorang warga dalam dialog tersebut, yang menandakan bahwa usaha di sekitar jembatan kehilangan pelanggan .
Respons Pemerintah
Pemerintah Provinsi Jawa Timur bergerak cepat menanggapi bencana ini. Wakil Gubernur Emil Dardak yang turun langsung ke lokasi menegaskan bahwa pembangunan ulang jembatan akan dipercepat dengan anggaran sebesar Rp17,5 miliar.
Jembatan baru nantinya akan dirancang lebih kokoh menggunakan balok girder dengan lebar diperlebar dari sebelumnya sembilan meter menjadi 14 meter. Proses pengerjaan diprediksi akan memakan waktu sekitar delapan bulan. "Ini konstruksi yang harus presisi dan kuat untuk jangka panjang. Tidak boleh tergesa-gesa sampai mengorbankan kualitas," tegas Emil .
Sementara itu, Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid memastikan akan segera melakukan perbaikan pada jalur alternatif. Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Provinsi Jawa Timur juga telah menyiapkan dua rute pengalihan arus lalu lintas untuk memecah kepadatan di sekitar lokasi kejadian .
Berikut adalah skema jalur alternatif yang disiapkan bagi pengendara:
Rute untuk kendaraan bertonase tinggi dari arah selatan: Diarahkan melalui pertigaan Beringin menuju Desa Kalianyar, Desa Koncer, hingga masuk ke kawasan kota Bondowoso .
Rute untuk sepeda motor: Dialihkan melalui Desa Jetis menuju pertigaan Jalan Desa Pakuwesi di Kecamatan Curahdami, yang langsung menembus Kelurahan Nangkaan sebagai akses masuk utama menuju pusat kota .
BPBD Bondowoso bersama petugas kepolisian dan dinas perhubungan terus bersiaga di titik penutupan untuk memastikan tidak ada warga yang nekat melintasi struktur jembatan yang rawan. Masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan mematuhi rambu-rambu lalu lintas yang telah dipasang .
